Rabu, 04 Mei 2016

Selamat Tinggal Mei, April ini semua Rasa telah Mati

April 2015, joe kembali ke Bandung, 5 hari sebelumnya, Suci menghubungi mei melalui skype. 17 April 2015, kita reunian Mei, lo harus datang. Mei  menyanggupi. Bertemu Joe adalah alasan terbesar Mei menghadiri reunian kelas mereka. Benar, Joe datang. Mei bahagia, sangat bahagia. Ekspresi bahagia Mei tidak bisa lagi disembunyikan, ketika melihat sosok yang sudah dua tahun tidak pernah dia hubungi, sosok yang dulu adalah orang yang paling peduli kepadanya selain keluarganya. spontan Mei memeluk Joe. Joe tersenyum, apa kabar Mei?

Joe, ada yang ingin saya sampaikan. Mei sudah tidak bisa lagi menahan dirinya untuk mengatakan yang sesungguhnya kepada Joe.

Seperti biasa, ekspresi peduli joe pun keluar.
Oya? Mau cerita apa, ada yang melamar kamu ya?, joe menggoda Mei, tiba-tiba joe ingat sesuatu, ya Ampuuun, saya lupa. Bentar Mei, bentar. 

Joe melesat keluar ruangan. Tiga menit kemudian, joe masuk lagi. Hay guys, minta perhatiannya bentar, saya punya kejutan untuk kalian,...

mau bagi-bagi paket liburan ke Hawai lu joe, celetuk Ali. Seisi ruangan tertawa. Joe meraih tangan Jeni yang menunggu diruang depan. Kenalin Tunangan gue guys, Jeni.

Ooooooooowwww… lagi lagi seisi ruangan heboh, mereka larut dalam kebahagiaan ketika melihat joe mengenalkan calon istrinya, dan satu persatupun mengucapkan selamat kepada joe dan tunangannya.

Hay jeni, selamat datang dikehidupan joe ya, kami emang begini, Heboh terus. Suci menjelaskan.

tidak apa-apa a…
Suci, kenalin saya Suci.
Iya suci, tidak apa-apa, terimakasih sambutannya.

Ci, Mei kemana, kok ngilang gitu tu anak. Joe memotong pembicaraan mereka.
Iya, ya, tadi ada lho, ke Toilet kali joe.

Hmm… joe melihat-lihat disekitar ruangan. Dan di pojok dekat jendela, joe melihat Mei sedang memainkan Smartphone nya.

Are you oke Meidania Aprilia?
Eh joe, kirain siapa.
Katanya mau menyampaikan sesuatu tadi, apa?
Kapan saya bilang? Gak ada kok.
Wiiih, mbak Mei kita sudah maen rahasia-rahasiaan sekarang ya…

Eh, mana calonmu, gak ngenalin ke gue ih.  Mei menarik nafas panjang.
Ceileh … biasanya juga kamu yang paling semangat ngerecokin minta kenalan sama cewek-cewek yang suka sama gue, tumben sekarang minta dikenalin. 24 tahun berhasil merubahmu ya mbak… ? Bentar ya…

Ji, kenalin ini Mei, my Best Friend Forever. Mei ini Ji.
Hay Jen, Mei.  Mei menyalamijen dan cipika-cipiki. Belum sempat ada obrolan basi-basi, Mei gegabah, air matanya sudah mengenang.

Aduh, kelilipan, aku ke toilet dulu Jen, ditinggal dulu ya.
Mei menutupi luka hatinya. Mei melesat ke Toilet, mengusap matanya dan menahan agar tidak mengalir lagi. Namun usahanya sia-sia, dadanya sudah terlalu sesak untuk menahan tangisnya. Mei menyalakan kran air dan menangis sejadi-jadinya. Hati mei hancur, dua tahun dia menyimpan perasaannya dengan hati-hati untuk joe. Entah berapa laki-laki yang dia abaikan hanya untuk menjaga perasaannya. Yang dia tahu, joe juga pergi membawa perasaannya untuk Mei saat terakhir mereka bertemu di Bandara, sebelum keberangkatan Joe ke Singapore. Yang Mei tahu, bahwa Joe akan pulang dan melamarnya setelah joe merasa siap untuk mengikat perasaan mereka. dan Mei sudah berencana untuk jujur kepada joe bahwa dia juga menyukai joe. Mei ingin memperjelas status mereka sebelum joe kembali ke Singapore. Namun, harapan Mei telah hancur beberapa menit yang lalu, saat joe mengenalkan Jeni , wanita yang akan dinikahkannya Desember mendatang.

Mei membasuh mukanya, matanya merah.  Dia mencoba tenang, dan akan menemui suci untuk pamit pulang. Joe sudah menunggu didepan pintu Toilet, Mei kaget dan mengabaikan keberadaan joe. Joe menahan Mei, dia menatap Mei dalam.

Cerita Mei, kamu kenapa?Mei tidak berani menatap joe. Dia hanya menunduk.
Saya mau pulang joe.
Kenapa pulang, acaranya baru aja dimulai, kamu jauh-jauh dari Bogor kesini untuk Reunian, tapi setelah sampai disini malah mau pulang. Saya tahu kamu Mei, kita kenal bukan saat reunian ini saja Mei, kita sudah lama kenal.
Saya Cuma mau pulang joe!.

Mei pergi meninggalkan joe, dan pamit ke Suci bahwa dia tidak enak badan, ingin istirahat di hotel.

Mei keluar, dan air matanya kembali menetes. 
Mei tidak tahu ternyata Joe izin ke Jen untuk mengantarkan Mei pulang. Jen mengizinkan joe, jen memang tidak pernah mengekang joe. Dia termasuk cewek pengertian dan tidak neko-neko.

Ayo Mei, saya antar. 
Tidak usah joe, saya bisa sendiri, Jen lebih butuh kamu di dalam. Dia pasti kebingungan menghadapi anak-anak kelas, dia belum terlalu kenal mereka.

Gak Mei, saya harus antar kamu pulang. Kamu gak bisa seperti ini sama saya Mei. Kenapa jadi seperti orang lain gini sih mei?

Mei Menatap Joe tajam.  Apa joe? Saya gak boleh seperti ini ke kamu? Terus saya harus gimana sama kamu joe? Dua tahun joe, dua tahun saya nunggu bertemu kamu, dua tahun saya menutup diri untuk orang lain, dua tahun saya berusaha menjaga perasaan saya untuk kamu. Kamu lupa, apa yang terjadi sebelum kita berpisah di Bandara?

Semua berubah joe, dua tahun berpisah ternyata mengikis rasa. Namun dua tahun berpisah buat aku itu memupuk rindu dan menghidupkan rasa yang dulu belum pernah ada.

Kamu gak salah joe, aku yang salah, aku salah karena berharap sesuatu yang tidak jelas dan tidak pasti, bahkan hubungan dan rasa yang pernah kamu katakan dulu itu juga gak pernah jelas. Tapi aku menutup mata untuk itu semua. Aku menghidupkan itu semua seolah-olah ini semua benar, bahwa kamu akan menjaga rasa itu sampai kamu kemabali lagi ke kota ini.

Aku memang harusnya hanya jadi teman baikmu selamanya, seperti yang kamu bilang ke jen.
Tenang aja joe, saya gak akan mengganggu kamu dan jen. Tak perlu khawatirkan saya, saya akan baik-baik aja.

Dua tahun ini cukup bagiku dalam melatih diri untuk kehilangan sepotong hati.
Semoga bahagia joe, Aku belajar banyak hal, bahwa Cinta itu bukan tentang memaksa memiliki dan memaksa orang lain untuk peduli, namun tentang belajar menerima dan mengikhlaskan apa yang menjadi takdir dan yang bukan takdirnya.

Saya percaya Tuhan tahu yang terbaik untuk kamu dan aku.

Maafkan saya Mei.  Dulu saya memang pengecut, tidak mampu berkomitmen atas perasaan saya ke kamu.  Saya juga tidak tahu ternyata dua tahun ini rasa itu juga tumbuh dihatimu. Saya juga berpikir bahwa saya tidak mungkin mendapatkan kamu, dan jika  ketika itu saya memaksa, itu hanya akan menghancurkan persahabatan kita.

Dan disaat itu pula aku mencoba belajar membuka hati untuk orang lain, dan Jen adalah orang yang hampir sama seperti kamu, dia orang yang sangat peduli dengan orang-orang disekitarnya. Hampir setiap hari dia menguatkan saya di kantor, bahwa tidak ada yang bisa memaksa akan berjodoh dengan siapa. Dia juga yang meyakinkan saya,  bahwa Tuhan tidak pernah salah membumikan takdir-Nya. Tak perlu dirisaukan, jika berjodoh, maka Tuhan akan tunjukkan jalan.

Mei menarik nafas panjang. Memeluk Joe dengan erat.

Selamat tinggal joe.
Aku selesai denganmu.

Pelajaran berharga didapatkan Mei malam itu, tak ada gunanya memupuk sesuatu yang kita tidak tahu apakah ada tanaman didalamnya atau tidak. Seperti halnya Mei yang memupuk cintanya untuk joe, sementara joe tidak pernah menjanjikan apa-apa untuknya.

Hati Mei hancur sehancur-hancurnya malam itu. Orang yang dia rindu selama dua tahun akan menikah. Namun Mei Bahagia, bahwa penantiannya terjawab sudah. Meskipun malam itu jawabannya terdengar tidak indah, dia tahu besok ketika matahari kembali, dia juga sudah harus memulai kehidupannya dengan Kuat dan damai.

Mei memutuskan menuliskan kisahnya dalam sebuah novel yang diberi judul “Cinta Mati di Kota Sakti “. Mei memutuskankan mengejar impiannya menjadi  penulis, dia sering ke berbagai tempat untuk menulis dan juga mengisi seminar kepenulisan, kini dia tinggal di sebuah desa di kabupaten Cumbria, Provinsi south west England, Inggris. Sudah setahun dia disana menjadi seorang penulis. Semoga Mei menemukan teman perjalanannya. 


                                                                   



Minggu, 13 September 2015

Inginmu Tak Lebih Besar Dari Kesedihanmu

pernah kayak gini?
kayaknya beberapa orang dari begitu banyaknya orang di dunia pernah kali ya.
nah, jangan gitu lagi ya.

Harus kembali menyalahkan keadaan? Seharusnya saya tidak pulang? Emangnya kalau gak pulang, kamu bisa meraih mimpi-mimpimu? Kamu perlu tau satu hal, mimpimu tidak punya tujuan yang jelas, mereka yang bermimpi ke negara diluar sana, mereka sudah punya tujuan yang jelas, ingin melanjutkan pendidikan, bahkan sudah tahu ingin mengambil jurusan apa. Sementara kamu? Kamu gak tahu kenapa kamu memilih London. Mau S2 disana? Ambil jurusan apa? Dikampus mana? Udah tahu? Belum kan? Keinginanmu tidak lebih besar dari kesedihanmu. Tidak usah mengatakan bahwa kamu harus berdamai dengan keadaan, dengan masa lalu, bahkan kau tak perlu berdamai dengan mimpi-mimpi yang telah kau tuliskan. Tidak perlu. Mereka semua tak salah apa-apa. Mereka tidak pernah menjahatimu, lantas kenapa kamu harus berdamai? Kamu tak perlu berdamai dengan apapun dan dengan siapapun, satu-satunya orang yang perlu berdamai dengan kamu adalah diri kamu sendiri. tidak usah melihat kesalahan sampai kau berputar sedemikian rupa mencari-cari penyebab keadaanmu sekarang, tidak perlu. Yang perlu kamu lakukan adalah, ngobrol dengan hatimu, bicaralah dengan tenang,dengan penuh rasa ingin berdamai. Mintalah dia untuk ikhlas, ajak dia untuk melepaskan, agar kalian punya tempat yang lebih luas untuk mimpi yang harus dibangun berikutnya. Mulai lah dari sana. Berhentilah berpura-pura, cukup dengan topeng-topeng yang ternyata hanya membuat kamu tak mengenal diri kamu sendiri.

================================================================================================================
ini pertanyaan buat nimpukin diri sendiri sih..

Rabu, 03 Juni 2015

Sampai Jumpa Mei, April tahun depan atau setelahnya

Di bandara, disana terakhir mereka bertemu.  Joe harus pergi, joe bekerja diperusahaan asing di Singapore. Tak ada yang tahu perasaan Joe kepada Mei. Mereka adalah teman satu kelas dijurusan teknik informatika di salah satu institute Teknologi di Bandung.

Mereka berteman sejak awal perkuliahan, maen bareng, bikin tugas bareng, duduk juga selalu berdampingan, teman-teman kelas sudah tahu jika joe tidak masuk, maka bertanyalah kepada mei, karena Mei pasti tahu jawabannya.

Sebagai seorang teman, joe adalah teman yang sangat baik kepada siapapun, murah hati dan susah untuk menolak permintaan teman-temannya. Selama mereka berteman, joe benar-benar jadi teman yang bisa diandalkan bagi Mei. Mei butuh apapun, pasti dipenuhi oleh joe, ditambah lagi mei adalah orang yang suka memaksa dan segala keinginannya harus dituruti.            

Meskipun demikian, bukan berarti mereka tak pernah bertengkar, malam itu, semuanya dimulai. Mei medapat laporan bahwa joe bersama seorang cewek di Braga. Mei hanya diam, bukan karena gak peduli, tapi begitulah Mei kalau sudah Emosi, dia diam. Mei emosi bukan karena cemburu joe jalan dengan cewek, tapi karena joe ditemukan tengah mabuk bersama salah seorang adik tingkat di jurusannya. Mei tidak pernah melarang joe pacaran dengan siapapun, namun mei tidak bisa memaafkan jika joe sampai menyentuh Alkohol. Jangankan alkohol, merokok saja joe tidak pernah.

Keesokan harinya, Mei menemui joe, ada hubungan apa kamu dengan seli? Dia pacar kamu? Bukan, joe menjawab dengan suara datar. Terus, kamu suka sama dia? Gak mei, saya hanya kasihan, orang tuanya sudah tidak ada, dia juga sering sakit-sakitan. Saya kasihan, makanya saya sering mengantarkan dia pulang…., Lantas bagaimana dengan minuman yang kamu minum sampai mabuk itu? Mei menyela kalimat joe. Itu, itu saya juga gak tau, saya disuguhi segelas air, terus tiba-tiba saya pusing aja. Apapun joe, apapun alasannya, kamu sudah meminumnya. Jangan lakukan lagi, jangan pernah ikuti seli lagi. Iya mei, maafin saya. Saya akan jaga jarak dengannya.

Setelah obrolan itu,mereka belum bertemu lagi, karena Mei sibuk dengan penelitiannya. Tepat satu minggu setelah itu, ada sms masuk ke Mei, dari fikri teman komunitas anti narkoba dan pergaulan bebas, yang sama-sama mereka ikuti. “mei, joe punya pacar ya?, gue liat dia berpelukan didepan salah satu kost-kostan didekat kostan teman gue. Dan pas gue Tanya ke teman gue, katanya cowok itu sering datang dan nginap disana.” Mei seperti ditampar membaca sms dari fikri, mei hanya balas “nanti gue tanyakan ke orangnya fik”.

kamu kenapa joe? Ada yang liat kamu pelukan sama cewek. Bisa jelaskan ke saya? Maafkan saya mei, joe hanya balas sms mei dengan kalimat itu. Sesakit apa cewek itu joe? Selemah apa dia? Hingga kamu harus selalu ada disamping dia? Sampai menemani dia tidur joe?, maafkan saya mei, hanya itu balasan yang joe kirimkan.

Mei, gue tau gimana perasaan lo, mei hanya diam, ketika suci memeluknya, fikri yang memberitahukan kabar itu ke suci. Suci datang untuk menemani mei malam itu, karena suci tahu Mei orangnya keras, tipe orang yang tidak mudah menangis, dia lebih sering menahan dan memendam sendiri masalahnya. Benar, malam itu dia tidak bicara sedikitpun tentang masalah joe, dia hanya diam, sesekali tertawa-tawa yang terkesan memaksa, membuat lelucon yang sama sekali tidak lucu. Mei sibuk sendiri dengan aktifitas yang tidak penting dilakukan, hal itu terjadi hingga ia tertidur. Tidak lama, tidak sampai lima belas menit, tiba-tiba Mei bergumam, tidak apa-apa mei, tidak apa-apa, semua baik-baik saja mei, semua baik-baik saja, dan air matanya mengalir. Suci memeluk temannya itu dan berusaha menenangkan.

Pagi itu Suci pamit pulang, mata mei sembab, dia tidak kemana-mana hari itu. Dia syok, seperti mimpi. Tidak menyangka teman yang sudah dia kenal hampir 4 tahun melakukan hal konyol seperti itu. Dapat kabar Joe mabuk saja sudah membuat dia syok, dan sekarang  malah mendapat kabar bahwa joe sering tidur bersama dengan cewek. Yang dia tahu, joe bukan cowok nakal seperti yang dikabarkan, jangankan tidur ditempat cewek, dia masuk kamar kostan Mei saja tidak pernah.

Sms masuk bertubi-tubi dari teman-teman sekomunitas mei, berita itu menyebar sangat cepat. Mei belum pernah melihat langsung joe jalan bersama dengan cewek itu. Tapi teman-temannya selalu mengabari mei dan bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi kepada joe. Mei tidak balas, mei hanya diam, bahkan beberapa ada yang sampai menelfon, mei seperti diteror. Hal itu dikarenakan joe merupakan wakil ketua dari komunitas mahasiswa anti narkoba dan pergaulan bebas dikampusnya. Joe terancam dikeluarkan dari organisasi.

Mei menuliskan sms untuk joe, apa yang harus saya jawab joe, semua orang bertanya tentang kamu, staf-staf kamu kehilangan kamu, sementara saya tidak tau harus menjawab apa, saya bahkan tidak pernah melihat kalian jalan bersama, tapi mereka selalu memberitahukan saya setiap kali mereka melihat kamu dengan cewek itu, saya bahkan dikatakan pecundang karena hanya diam ketika masalah tersebut dibahas ketika rapat.

Lupakan saja bahwa kita teman dekat, tinggalkan saja saya, mohon maaf sudah menyusahkan kamu, mulai sekarang bersikap seperti kita hanya kenal saja.
Kamu gak boleh bersikap seperti itu joe, kita teman, walaupun masalah ini berat, kita harus hadapi bareng-bareng, kita teman joe, kita sudah kenal lama. Kita pasti bisa menyelesaikan semuanya. Kita akan perbaiki masalah kamu.

Kamu gak usah lagi mempedulikan saya, mulai sekarang kita hanya teman kenalan biasa.

Mei semakin kalut dengan sikap joe. Mei menghilang seminggu. Hanya dikamar, tiba-tiba menangis, melempar barang-barang dikamarnya, mei kesal, kesal dengan apa yang dilakukan joe. Seminggu setelah itu, mei datang ke kampus, karena harus bimbingan dan ada beberapa rapat organisasi mahasiswa yang ia ikuti. Dia bertemu joe, dan yang memimpin rapat sore itu adalah joe, mei membacakan laporan divisinya tanpa melihat kearah joe sedikitpun. Dan mei sudah tidak tahan ingin keluar, tapi apa daya, tidak ada teman divisi yang bisa menggantikannya untuk stay diruang rapat itu.

Hari berlalu, mei bersikap seperti yang joe minta, seperti teman kenalan biasa. Tidak ada komunikasi lain selain profesionalitas organisasi, itu juga kalau mei bisa mewakilkan ke teman yang lain, maka ia akan wakilkan.
Hampir enam bulan semenjak kejadian itu, mei sudah biasa-biasa saja, joe pun sudah tidak segan-segan lagi menunjukkan kemesraannya di kampus bersama seli, adik tingkat dijurusannya yang kedekatannya diawali dengan rasa kasihan. Mei menyapa seli dengan biasa, seperti tidak tahu apa-apa. Senyum sumuringah dan salaman sambil cipika-cipiki. Ketika joe bertanya darimana, mei pun menjawab seadanya dan seperlunya.

Kumpul kelas, jalan-jalan dengan teman kelas, mereka biasa saja, tidak bicara jika tidak ada hal penting terkait kelas. Teman-teman kelas bertanya-tanya, kenapa mereka saling menjauh, mereka menjawab biasa, tidak terjadi apa-apa, kita biasa aja kok.

Saling tidak peduli itu berlangsung lama, sampai pada saat mereka wisuda, tepat 20 April, wisuda mereka, dan merupakan hari ulang tahun Mei. Mei telat, dan joe diminta memberikan kata sambutan diacara itu. Ketika Mei datang, panitia wisuda mengucapkan selamat, bukan hanya selamat wisuda, tapi juga selamat ulang tahun. Mei tercengang, dari mana para panitia yang notabene nya adalah adik tingkat tahu hari ulang tahunnya, karena di media sosial miliknya pun informasi terkait tanggal lahir disembunyikan. Ternyata ketika joe memberikan kata sambutan, joe mengucapkan selamat ulang tahun untuk Mei. “pada kesempatan kali ini, saya juga ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk sahabat terbaik saya, Meidania Aprilia. Semoga makin sukses”.

Setelah hari itu, mereka sudah jarang ke kampus, dan jarang berkomunikasi, sampai pada saat Mei membaca sms dari suci, “hay gengs, sudah pada sibuk sendiri-sendiri ya, reunian yuk. sabtu ini kita kumpul di kampus jam 9 pagi, setelah itu kita berangkat ke Villa Resti, harus datang,wajib”.

seperti acara reunian pada umumnya, ada permainan-permainan konyol untuk menyingkap tabir masa lalu, dan disana terungkap sudah, bahwa joe menyukai Mei.  Sudah sejak lama, dan Malam itu tidak ada yang tahu bahwa joe menyukai Mei, karena joe hanya bilang, saya pernah suka pada cewek kelas kita, bahkan sampai sekarang. Hanya itu. Dan dalam ruangan yang sama, joe mengirim pesan singkat kepada Mei, ”cewek itu kamu Mei”. Mei tidak membalas pesan dari joe. Joe terlalu pengecut untuk bicara langsung malam itu, karena perasaan bersalah yang masih memenuhi hatinya, joe tidak berani menjelaskan semuanya kepada Mei.

Saya berangkat besok, saya diterima disalah satu perusahaan di Singapore. Teman-teman kelas akan ikut mengantarkan ke bandara besok, kamu juga Mei, datanglah. Saya minta maaf pernah mengecewakan kamu…, tambah joe, dan Mei hanya bilang, selamat, udah diterima bekerja. Dan berlalu meninggalkan joe yang masih ingin menjelaskan banyak hal. Termasuk tentang joe yang sebenarnya tidak pernah jadian dengan Seli, joe hanya menemani seli kemanapun seli pergi layaknya seorang pacar, karena kakak seli pernah menitipkan seli kepada joe yang ketika itu menjadi wakil komunitas sosial dikampusnya. Hanya saja joe berlebihan. Mereka layaknya sepasang kekasih, namun sesungguhnya Hubungan Joe dan seli tanpa status. Joe sering ingin meninggalkan seli, namun seli mengancam akan bunuh diri, bahkan ketika ada sedikit tekanan saja, seli langsung masuk sakit. Namun, Mei sudah tidak tertarik untuk mendengarkan banyak hal dari joe, hatinya sudah beku untuk peduli dengan kisah joe, luka Mei begitu dalam karena dicampakkan oleh temannya sendiri.

Di bandara, Mei bersama teman kelasnya datang dan ikut berfoto bersama dengan joe sebelum joe masuk untuk cek in. sebelum joe masuk ruangan cek in bandara, Mei mendatangi joe,” terimakasih untuk 4 tahun kemaren joe, dan rasa kecewa yang mengajarkan saya banyak hal. seperti diawal pertemanan kita, jika hari ini kamu temanku, maka bertahun-tahun berikutnya, kau tetap temanku, apapun keadaannya”. Terimakasih Mei, saya tidak pernah menyesal sampai hari ini masih menyukaimu. Meskipun kau tak pernah tahu itu.

Sampai jumpa Mei, April tahun depan, atau setelahnya.

April 2015, joe kembali ke Bandung, 5 hari sebelumnya, Suci menghubugi joe melalui skype, 17 April 2015, kita reunian joe, lo harus datang. Joe menyanggupi. Mei adalah alasan terbesar joe untuk pulang ke Indonesia sembari menghadiri reunian kelas mereka. Benar, mei datang. Joe bahagia, sangat bahagia. Ekspresi joe tidak bisa lagi disembunyikan, ketika melihat sosok yang sudah dua tahun tidak pernah dia hubungi, sosok yang dulu adalah orang yang paling peduli kepadanya selain kelurga, spontan joe memeluk Mei. Mei tersenyum. Selamat datang joe. Mereka larut dalam reunian malam itu. Banyak hal yang telah terjadi. Termasuk Mei yang tiba-tiba mengeluarkan kertas tebal berwarna coklat muda. Guys, ini buat kalian. Yap, itu undangan pernikahan Mei, bukan undangan ulang tahunnya. Joe tersedak, jantungnya berdegup kencang, matanya terasa perih, tangannya berkeringat. 20 April, ulang tahun Mei, joe sudah menyediakan banyak kejutan, foto-foto mereka ketika masih kuliah yang sudah dirangkum dalam sebuah video dan slide romantis, dan yang terpenting dari itu semua adalah, cincin berwarna putih polos dengan ukiran nama Mei. Joe ingin memberikan kejutan dihari ulang tahun Mei, namun joe lupa, bahwa waktu dua tahun tanpa komunikasi sudah banyak hal yang terjadi. Banyak rasa yang telah berubah, rasa yang tidak lagi sama, dan tidak lagi berada pada tempatnya, kecuali rasa joe yang masih sama untuk Mei. Mei butuh kejelasan sebagai seorang wanita dewasa. Mei menerima lamaran Nofri, rekan kerjanya dikantor.


Selamat menempuh hidup baru Mei, kamu benar Mei, kamu selalu benar tentang kita, enam tahun yang lalu aku temanmu, dan bertahun-tahun berikutnyapun aku tetap temanmu, apapun keadaannya.

*yang kuat ya Joe, begitulah wanita, mereka butuh kejelasan.


Selasa, 09 September 2014

Tingkat Akhir yang Belum Berakhir

Skripsi, kata ini terdengar menyeramkan untuk seorang mahasiswa tingkat akhir, bukan karena susah atau pun kesulitan-kesulitan “verbal” lainnya, tapi ini lebih kepada keinginan dan niat yang begitu sulit untuk memulai mengerjakan, sulit mulai untuk menuliskan sesuatu yang ada di kepala, kadang yang terfikirkan berhenti ditahap wacana, tidak pada tahap menuliskan atau mungkin mengaplikasikan.
Menyeramkan lainnya adalah kamu tidak tahu bagaimana cara mengobatinya, tidak tahu bagaimana solusi yang tepat untuk membuat kau bergerak mengerjakannya. Kau berusaha mencoba memotivasi diri sendiri, dan kau gagal, kau coba menjadikan orang tua sebagai motivasi, tapi tak berhasil, kau coba dengan lingkungan, mulai dari teman-teman, sampai pada kakak tingkat yang berhasil keluar dengan sukses, tapi tetap tak bergeming, bahkan dengan motivasi yang biasa di agung-agungkan mahasiswi tingkat akhir, sebut saja “membangun peradaban”, tapi tetap tak mampu membuatmu perlahan maju menyelesaikan skripsi.
Menyeramkan, dia akan terus menyeramkan setelah akhirnya kau coba Dia yang memberikan solusi dari setiap masalah, kau coba utarakan semua yang kau rasa, kau katakan semua keinginanmu pada-Nya, kau mulai mencoba berdo’a dengan segenap kekhusyukan yang ada. Jangan hanya sekali saja, jangan berhenti sebelum ia melembutkan hati keras mu yang seperti baja, yang hampir tak mampu lagi menerima perkataan manusia. Sampai Dia benar-benar membuatmu menyelesaikan dan mengakhiri kesereman sebuah Skripsi.
Lihat dan perhatikan, sepertinya ada tutup botol yang menyumbat ditengah-tengah pipa, hingga ia membuka tutup itu dan air akan segera memancar dan mengalir dengan lancar dan deras. Dan kau akan menikmatinya bersama Ridho-Nya.

Kamu pasti bisa, kamu pasti bisa. Jangan lah lagi berleha-leha, waktu tak pernah mau menunggu, tapi kamulah yang haru berjalan menyamai langkah agar tak tertinggal. Semangat, semangat untuk siapapun yang sedang bersama kata menyeramkan itu “skripsi”. 

                                                                                Bandung, 1 mei 2014. 06:15 BBWI.

Rabu, 03 September 2014

Ramadhan (pernah) Abu-abu

Allah Berkahkan Ramadhan ku.
Tak kurasakan indah nya ramadhan ini.
Sujudku hampir semuanya tentang pengharapan agar selalu dimudahkan.
Do’aku hampir selalu tentang semoga di lancarkan dan di tunjukkan jalan.
Pembicaraan ku hampir selalu tentang kita harus selesaikan ini bersama.
Ucapanku selalu tentang semangat bahwa kita pasti bisa.

Yang mana lagi ya Allah, Mohon tunjukkan jalan keluarnya.
Jika memang usaha saya belum maksimal untuk bisa menyelesaikan semuanya bulan depan, tolong ya Allah, tolong bawa saya pada keikhlasan, dan bimbing saya untuk bisa menerima.

Cukup ya Allah, cukup.  Sujud dan berdiriku sudah tak lagi kusyuk, tilawahku tak lagi sempurna, dzikirku tak lagi tenang, hanya karena bebruru waktu ingin segera menyelesaikannya.

Tak ada lagi amanah yang ku laksanakan secara maksimal, hak saudara ku lebih sering ku abaikan. Cukup ya Allah, cukup. Sampai kapan saya akan menjadi orang yang berpikir hanya untuk diri sendiri, karena ketakutan tak mampu mencapai akhir secepatnya.

Jika memang bukan takdirnya saya mampu menyelesaikan nya semester ini, maka kuatkan saya untuk mengakhirinya sekarang, jangan biarkan saya merasakan ketakutan ini sendiri, bimbing saya ya Allah, bimbing saya.

Saya selalu percaya, dan akan selalu percaya, bahwa Engkau tak pernah tidur, bahwa Engkau tak pernah Meninggalkan setiap hamba. Saya percaya bahwa Engkau akan mengabulkan setiap do’a. bimbing saya agar selalu sabar menunggu dikabulkan segala do’a.


Cukup ya Allah, cukup. Tak satupun ku ingkari kekuasaan-Mu.


                                                                            Bandung, 15 Juli 2014. (17 Ramadhan 1435H)

Selasa, 08 Juli 2014

Selamat Malam cinta

Selamat malam cinta, selamat malam bandung, dimalam pada tanggal yang sama, untuk pertama kalinya aku menapaki kaki di tanahmu, menjumpaimu di pekat malam yang sama, pada jam yang hampir sama.  8 Juli 2010, empat tahun yang lalu, kita bertemu di tanah sunda.  Masih ku ingat, kau sapa aku dengan keramahan, dengan dinginnya malam dan siangmu.

Selamat malam cinta, selamat malam bandung, kau ingat aku? Empat tahun yang lalu, dengan soundtrack yang sama, bondan prakoso dengan “ya sudahlah” nya. Aku dengan perasaan ragu meninggalkan sahabat-sahabatku, orang tua, keluarga dan juga rumah tempat ku di besarkan.

Selamat malam cinta, selamat malam tanah sunda, apa kau masih sakti seperti empat tahun yang lalu? Dimana dinding kamar mulai  penuh dengan coret-coretan mimpi-mimpi ku, dan semangat yang begitu  berapi-api untuk mewujudkannya.

Selamat malam cinta, selamat malam Universitas Peradaban, dulu kau begitu sakti, bahkan sampai saat ini, hingga banyak negara yang berani saya tulis di lembar-lembar mimipi. Nama-nama negara yang entah kapan bisa saya kunjungi.
Selamat malam Bandung, selamat malam cinta pertama, selamat malam mimpi pertama yang berhasil saya buktikan kepada dunia, bahwa Allah tak pernah tidur, bahwa Tuhanku tak pernah meninggalkan ku.

Selamat malam UPI, selamat malam Bumi Siliwangi, malam ini tepat empat tahun bukan? Apakah sudah saatnya aku pergi? Tak bolehkan aku sedikit lebih lama disini? Adakah kesempatanku untuk melanjutkan mimpi ? Mimpi yang sebelumnya tak berani ada di pikiran ini.

Fabiayyia laa irabbikuma tukadzibaan, sungguh tak ada lagi nikmat yang mampu aku dustakan. Kesempatan mencoba, bahkan kesempatan menjalani mimpi-mimpi ini.

Allah, terimakasih untuk segalanya.


Selamat malam cinta, selamat malam Bandung, selamat malam mimpi pertama, selamat malam UPI tercinta.


Bandung, 8 Juli 2014. 21:25 wib,@myroom

Minggu, 08 Juni 2014

TIDAK sa(L)ah


Kenapa?
Apa yang salah dengan saya ?
Apakah saya salah jika saya cemburu ?
Apakah saya salah, ketika orang yang saya sayang tak lagi memperhatikan saya ?
Apakah saya salah, jika saya tidak ingin dia dekat dengan orang lain ?
Apakah saya salah, jika saya tidak suka dia mengabaikan saya?
Apakah saya salah, karena tidak mau berlama-lama jauh dari dia ?
Apakah saya salah, jika saya mengkhawatirkan dia ?
Apakah saya salah, ketika saya merindukan dia ?
Apakah itu salah ? apakah saya salah?
Apakah Cemburu itu salah?

Adik baik, sini… kakak jelaskan sesuatu.
Kamu tidak salah,
Ya.. kamu tidak salah, tidak sama sekali.

Kamu punya hak untuk Cemburu,
Kamu boleh meminta perhatian dari orang yang kamu sayang.
Kamu boleh tidak suka ketika dia mengabaikanmu.
Kamu juga pantas marah jika seseorang yang kamu sayang dekat dengan orang lain.
Kamu juga dipersilahakan mengkhawatirkan nya.

Kamu boleh melakukan semua itu,
Hanya ada satu hal yang Belum boleh kamu lakukan,
Jangan lakukan semua itu pada Dia yang sama sekali Belum Halal bagi mu.
Jika hal itu sampai kamu lakukan, maka kamu salah dek, kamu salah besar.
Kamu salah karena Ia belum Sah menjadi pendampingmu.

Bisa dimengerti adik Baik ?
nah, sekarang fokuslah dengan Mimpi-mimpi dan Pengabdianmu pada Agamamu.
katanya Aktivis, masa Aktivis Menyek-menyek gitu.

                                                                                     salam Halal


                                                                          #kakak Semut Baik