Rabu, 04 Mei 2016

Selamat Tinggal Mei, April ini semua Rasa telah Mati

April 2015, joe kembali ke Bandung, 5 hari sebelumnya, Suci menghubungi mei melalui skype. 17 April 2015, kita reunian Mei, lo harus datang. Mei  menyanggupi. Bertemu Joe adalah alasan terbesar Mei menghadiri reunian kelas mereka. Benar, Joe datang. Mei bahagia, sangat bahagia. Ekspresi bahagia Mei tidak bisa lagi disembunyikan, ketika melihat sosok yang sudah dua tahun tidak pernah dia hubungi, sosok yang dulu adalah orang yang paling peduli kepadanya selain keluarganya. spontan Mei memeluk Joe. Joe tersenyum, apa kabar Mei?

Joe, ada yang ingin saya sampaikan. Mei sudah tidak bisa lagi menahan dirinya untuk mengatakan yang sesungguhnya kepada Joe.

Seperti biasa, ekspresi peduli joe pun keluar.
Oya? Mau cerita apa, ada yang melamar kamu ya?, joe menggoda Mei, tiba-tiba joe ingat sesuatu, ya Ampuuun, saya lupa. Bentar Mei, bentar. 

Joe melesat keluar ruangan. Tiga menit kemudian, joe masuk lagi. Hay guys, minta perhatiannya bentar, saya punya kejutan untuk kalian,...

mau bagi-bagi paket liburan ke Hawai lu joe, celetuk Ali. Seisi ruangan tertawa. Joe meraih tangan Jeni yang menunggu diruang depan. Kenalin Tunangan gue guys, Jeni.

Ooooooooowwww… lagi lagi seisi ruangan heboh, mereka larut dalam kebahagiaan ketika melihat joe mengenalkan calon istrinya, dan satu persatupun mengucapkan selamat kepada joe dan tunangannya.

Hay jeni, selamat datang dikehidupan joe ya, kami emang begini, Heboh terus. Suci menjelaskan.

tidak apa-apa a…
Suci, kenalin saya Suci.
Iya suci, tidak apa-apa, terimakasih sambutannya.

Ci, Mei kemana, kok ngilang gitu tu anak. Joe memotong pembicaraan mereka.
Iya, ya, tadi ada lho, ke Toilet kali joe.

Hmm… joe melihat-lihat disekitar ruangan. Dan di pojok dekat jendela, joe melihat Mei sedang memainkan Smartphone nya.

Are you oke Meidania Aprilia?
Eh joe, kirain siapa.
Katanya mau menyampaikan sesuatu tadi, apa?
Kapan saya bilang? Gak ada kok.
Wiiih, mbak Mei kita sudah maen rahasia-rahasiaan sekarang ya…

Eh, mana calonmu, gak ngenalin ke gue ih.  Mei menarik nafas panjang.
Ceileh … biasanya juga kamu yang paling semangat ngerecokin minta kenalan sama cewek-cewek yang suka sama gue, tumben sekarang minta dikenalin. 24 tahun berhasil merubahmu ya mbak… ? Bentar ya…

Ji, kenalin ini Mei, my Best Friend Forever. Mei ini Ji.
Hay Jen, Mei.  Mei menyalamijen dan cipika-cipiki. Belum sempat ada obrolan basi-basi, Mei gegabah, air matanya sudah mengenang.

Aduh, kelilipan, aku ke toilet dulu Jen, ditinggal dulu ya.
Mei menutupi luka hatinya. Mei melesat ke Toilet, mengusap matanya dan menahan agar tidak mengalir lagi. Namun usahanya sia-sia, dadanya sudah terlalu sesak untuk menahan tangisnya. Mei menyalakan kran air dan menangis sejadi-jadinya. Hati mei hancur, dua tahun dia menyimpan perasaannya dengan hati-hati untuk joe. Entah berapa laki-laki yang dia abaikan hanya untuk menjaga perasaannya. Yang dia tahu, joe juga pergi membawa perasaannya untuk Mei saat terakhir mereka bertemu di Bandara, sebelum keberangkatan Joe ke Singapore. Yang Mei tahu, bahwa Joe akan pulang dan melamarnya setelah joe merasa siap untuk mengikat perasaan mereka. dan Mei sudah berencana untuk jujur kepada joe bahwa dia juga menyukai joe. Mei ingin memperjelas status mereka sebelum joe kembali ke Singapore. Namun, harapan Mei telah hancur beberapa menit yang lalu, saat joe mengenalkan Jeni , wanita yang akan dinikahkannya Desember mendatang.

Mei membasuh mukanya, matanya merah.  Dia mencoba tenang, dan akan menemui suci untuk pamit pulang. Joe sudah menunggu didepan pintu Toilet, Mei kaget dan mengabaikan keberadaan joe. Joe menahan Mei, dia menatap Mei dalam.

Cerita Mei, kamu kenapa?Mei tidak berani menatap joe. Dia hanya menunduk.
Saya mau pulang joe.
Kenapa pulang, acaranya baru aja dimulai, kamu jauh-jauh dari Bogor kesini untuk Reunian, tapi setelah sampai disini malah mau pulang. Saya tahu kamu Mei, kita kenal bukan saat reunian ini saja Mei, kita sudah lama kenal.
Saya Cuma mau pulang joe!.

Mei pergi meninggalkan joe, dan pamit ke Suci bahwa dia tidak enak badan, ingin istirahat di hotel.

Mei keluar, dan air matanya kembali menetes. 
Mei tidak tahu ternyata Joe izin ke Jen untuk mengantarkan Mei pulang. Jen mengizinkan joe, jen memang tidak pernah mengekang joe. Dia termasuk cewek pengertian dan tidak neko-neko.

Ayo Mei, saya antar. 
Tidak usah joe, saya bisa sendiri, Jen lebih butuh kamu di dalam. Dia pasti kebingungan menghadapi anak-anak kelas, dia belum terlalu kenal mereka.

Gak Mei, saya harus antar kamu pulang. Kamu gak bisa seperti ini sama saya Mei. Kenapa jadi seperti orang lain gini sih mei?

Mei Menatap Joe tajam.  Apa joe? Saya gak boleh seperti ini ke kamu? Terus saya harus gimana sama kamu joe? Dua tahun joe, dua tahun saya nunggu bertemu kamu, dua tahun saya menutup diri untuk orang lain, dua tahun saya berusaha menjaga perasaan saya untuk kamu. Kamu lupa, apa yang terjadi sebelum kita berpisah di Bandara?

Semua berubah joe, dua tahun berpisah ternyata mengikis rasa. Namun dua tahun berpisah buat aku itu memupuk rindu dan menghidupkan rasa yang dulu belum pernah ada.

Kamu gak salah joe, aku yang salah, aku salah karena berharap sesuatu yang tidak jelas dan tidak pasti, bahkan hubungan dan rasa yang pernah kamu katakan dulu itu juga gak pernah jelas. Tapi aku menutup mata untuk itu semua. Aku menghidupkan itu semua seolah-olah ini semua benar, bahwa kamu akan menjaga rasa itu sampai kamu kemabali lagi ke kota ini.

Aku memang harusnya hanya jadi teman baikmu selamanya, seperti yang kamu bilang ke jen.
Tenang aja joe, saya gak akan mengganggu kamu dan jen. Tak perlu khawatirkan saya, saya akan baik-baik aja.

Dua tahun ini cukup bagiku dalam melatih diri untuk kehilangan sepotong hati.
Semoga bahagia joe, Aku belajar banyak hal, bahwa Cinta itu bukan tentang memaksa memiliki dan memaksa orang lain untuk peduli, namun tentang belajar menerima dan mengikhlaskan apa yang menjadi takdir dan yang bukan takdirnya.

Saya percaya Tuhan tahu yang terbaik untuk kamu dan aku.

Maafkan saya Mei.  Dulu saya memang pengecut, tidak mampu berkomitmen atas perasaan saya ke kamu.  Saya juga tidak tahu ternyata dua tahun ini rasa itu juga tumbuh dihatimu. Saya juga berpikir bahwa saya tidak mungkin mendapatkan kamu, dan jika  ketika itu saya memaksa, itu hanya akan menghancurkan persahabatan kita.

Dan disaat itu pula aku mencoba belajar membuka hati untuk orang lain, dan Jen adalah orang yang hampir sama seperti kamu, dia orang yang sangat peduli dengan orang-orang disekitarnya. Hampir setiap hari dia menguatkan saya di kantor, bahwa tidak ada yang bisa memaksa akan berjodoh dengan siapa. Dia juga yang meyakinkan saya,  bahwa Tuhan tidak pernah salah membumikan takdir-Nya. Tak perlu dirisaukan, jika berjodoh, maka Tuhan akan tunjukkan jalan.

Mei menarik nafas panjang. Memeluk Joe dengan erat.

Selamat tinggal joe.
Aku selesai denganmu.

Pelajaran berharga didapatkan Mei malam itu, tak ada gunanya memupuk sesuatu yang kita tidak tahu apakah ada tanaman didalamnya atau tidak. Seperti halnya Mei yang memupuk cintanya untuk joe, sementara joe tidak pernah menjanjikan apa-apa untuknya.

Hati Mei hancur sehancur-hancurnya malam itu. Orang yang dia rindu selama dua tahun akan menikah. Namun Mei Bahagia, bahwa penantiannya terjawab sudah. Meskipun malam itu jawabannya terdengar tidak indah, dia tahu besok ketika matahari kembali, dia juga sudah harus memulai kehidupannya dengan Kuat dan damai.

Mei memutuskan menuliskan kisahnya dalam sebuah novel yang diberi judul “Cinta Mati di Kota Sakti “. Mei memutuskankan mengejar impiannya menjadi  penulis, dia sering ke berbagai tempat untuk menulis dan juga mengisi seminar kepenulisan, kini dia tinggal di sebuah desa di kabupaten Cumbria, Provinsi south west England, Inggris. Sudah setahun dia disana menjadi seorang penulis. Semoga Mei menemukan teman perjalanannya. 


                                                                   



Tidak ada komentar:

Posting Komentar