Teruntuk
abang, di tempat.
Bang,
apa kabar?
Sedang
apa sekarang?
Bang,
Aku rindu padamu.
Bang,
aku tahu kau pasti lelah, kau pasti letih, karena kau masih bekerja.
Seingat
ku, kau sudah bekerja dari aku berumur 4 atau 5 tahun. Tapi kata mama, kau
sudah bekerja dari usia ku 2 tahun. Saat itu kau masih sekolah di STM. Kata
mama, waktu kau sekolah dulu, ketika lebaran, kau akan bekerja ekstra agar kau
bisa membelikan ku baju lebaran, dan
benar, setiap lebaran kau selalu bisa memberikan kami adik-adikmu baju lebaran.
Hingga
aku SD, MTS, SMA, sampai akhirnya aku kuliah sekarang. Belum pernah aku
mendengarkan kalimat seperti yang kau
ucapkan tadi bang, kalimat yang mungkin sudah kau simpan dari 20 tahun yang
lalu, dan tak pernah ku dengar. Kau mengucapkan kalimat itu dengan penuh
ketulusan dan cintamu pada ku, adikmu.
Kau
bilang , yang terpenting buat mu sekarang adalah bagaimana caranya aku bisa
mewujudkan cita-citaku. Menyelesaikan kuliah ku tanpa kurang satu apapun, kau
juga bilang bahwa kau tak pernah menjanjikan kemewahan atau kesenangan pada
kami adik-adikmu, tapi kau akan Berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan ku, itu katamu.
Haru
bang, aku bangga padamu. Aku bangga menjadi adikmu, kau memang tak kuliah, kau
memang bukan sarjana, karena kau membiayai sekolahku hingga kini. Kata mama ,
kau punya harapan besar atas kelulusan ku. Akupun tak menyangka hal itu
terpikirkan olehmu bang.
Bang,
tunggulah, aku akan mempersembahkan kelulusan ini untuk mu. untuk kerja keras
mu dan harapanmu.
Aku
bangga menjadi adikmu bang, adik seorang abang yang bukan pegawai negeri, adik
seorang abang yang juga bukan polisi, adik seorang abang yang juga bukan pengusaha
sukses, dengan lantang aku katakan, bahwa aku bangga menjadi adik seorang abang
yang bekerja sebagai pembawa mobil batu bara. Aku bangga bang.
Dengan
segenap hati ku, Aku mencintaimu bang, aku mencintaimu karena Allah, dan kau adalah
Abang terhebat buat ku.
salam cinta ,
(Adik bungsu mu)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar